Tampilkan postingan dengan label blitar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label blitar. Tampilkan semua postingan

Senin, 02 Februari 2015

jajanan khas dari blitar

SMASALUNGO 89. Jajanan Khas dari Blitar

1. geti 

Geti adalah nama yang cukup singkat. Makanan yang umumnya terbuat dari kacang tanah atau wijen ataupun gabungan dari keduanya. Kacang tanah dan biji wijen direkatkan dengan rebusan gula merah yang pekat kemudian dikeringkan. Rasa yang disajikan dari geti ini manis yang berasal dari gula merah serta gurih dari kacang tanah dan biji wijen.
Sebagai penikmat rasa, tidak perlu merasa kuatir mengenai rasa dari jajanan geti ini, karena pengolahanya dapat ditanggung tingkat ke-higenisannya. Proses pembuatan dan pembungkusannya memperhatikan keaslian rasanya, tapi juga tidak mengenyampingkan tingkat higenisnya.
Di Blitar, produksi geti paling banyak dihasilkan di desa Rejowinangun, Kecamatan Kademangan, Kabupaten Blitar.


2. wajik kletik

Wajik kletik merupakan produk makanan olahan yang terbuat dari ketan putih, kelapa, gula putih dan gula merah. Wajik kletik telah mendapat tempat di masyarakat Blitar khususnya, karena harganya yang murah, Rasanya yang enak, sehingga wajik kletik menjadi salah satu produk unggulan makanan khas Blitar, Disamping itu yang menjadikan wajik kletik menjadi lebih khas karena dibungkus dengan klobot.
Agar tidak mudah basi dan higienis, kulit jagung ini disetrika terlebih dahulu dan dikemas dalam rentengan sejumlah 5 buah. Sedangkan untuk membuat rentengannya menggunakan mesin jahit.
Sentra industri ini terletak di jl. Sultan Agung dekat dengan Ndalem Gebang Kelurahan Sananwetan, Kecamatan Sananwetan, Kota Blitar (± 1 km kearah timur dari pusat Kota Blitar).


3. rengginang

Rengginang adalah sejenis kerupuk yang terbuat dari nasi atau ketan yang dikeringkan lalu digoreng panas (deep-fry). Agak berbeda dari jenis kerupuk lain yang umumnya terbuat dari adonan bahan yang dihaluskan seperti tepung tapioka atau tumbukan biji melinjo, rengginang tidak dihancurkan sehingga bentuk butiran nasi atau ketannya masih tampak.
Rengginang dapat digoreng tanpa diberi bumbu maupun rasa, asin atau manis. Makanan ini sangat jamak ditemukan di Blitar, apalagi saat lebaran, hampir setiap rumah terutama di pedesaan, selalu menyediakan jajanan khas satu ini.























4. es pleret

Sebagai kota kecil, Blitar sudah terkenal dengan Makam Sang Proklamator yang berada tepat di jantung kota. Tapi kali ini tentang salah satu minuman khas kota Blitar, namanya es pleret. Es pleret cuma bisa ditemukan di Blitar Kota PATRIA saja. Sekilas, es pleret ini mirip dengan es dawet kebanyakan, Bisa diklasifikasikan kalau es ini adalah bagian dari family es dawet, Yang membuat es pleret ini unik adalah salah satu bahan yang ada didalamnya, yaitu berupa bola-bola kecil yang mirip bakso dan kemudian ditemani oleh pelengkap lain berupa cendol (dawet) dan kadang juga ditemani potongan serabi.
Bola-bola kecil tadi-lah yang namanya pleret, terbuat dari tepung, rasanya gurih, dan terisi gula pemanis didalamnya. Kuah dari es pleret ini tidak terlalu manis seperti es dawet kebanyakan. Tetapi ketika pleret dikunyah, pemanis didalamnya akan membuat kuah es pleret menjadi terasa lebih manis. Ditambah lagi rasa gurih pleret yg membuat rasa es ini semakin unik. Selain itu, sensasi nyess setelah pleret pecah dan cairan pemanisnya mulai terasa, memmg tidak ada duanya. begitu unik, enak dan bikin pengen lagi.
Nama es pleret sendiri juga tidak muncul begitu saja. Berdsrkan sejarahnya, konon nama ini diambil dari seorang sesepuh Kota Blitar yang bernama Kyai Pleret. Karena yang namanya es pleret ini begitu endemik, menemukannya pun gampang-gampang susah. Es pleret ini banyak dijual disekitar alun-alun Kota dan Makam Sang Proklamator. Untuk harganya tidak terlalu mahal. Mencoba es pleret tidak akan membuat kantong anda jebol. Nah ! tertarik untuk mecoba es ini disaat terik matahari sedang menyengat !? Sangat direkomendasikan jika sedang berada di Kota Blitar.
Jadi jika anda berkunjung ke Kota Blitar, jangan lupa menikmati es pleret yang merupakan minuman khas Kota Blitar.  
Es pleret ketika dahaga menghampiri kita seperti disiang hari yang begitu panas. Memang sangat nikmat jika mengonsumsi sesuatu yang dapat menyegarkan tubuh serta menghilangkan rasa haus, salah satunya adalah es pleret. di Kota Blitar. Es pleret banyak digandrungi semua orang, baik anak-anak maupun orang dewasa. Es ini banyak dijumpai pada pedagang k5 yang biasa berada di alun-alun Kota Blitar dan juga biasa dijual oleh pedagang keliling.

 





















5. madumongso

Madumongso adalah makanan ringan yang terbuat dari ketan hitam sebagai bahan dasarnya.
Rasanya asam bercampur manis, karena ketan hitam sebelumnya diolah dahulu menjadi tape (melalui proses fermentasi).
Setelah jadi kemudian diolah lagi dengan menambahkan gula, santan dan beberapa buah nanas, sebelum kemudian dimasak hingga menjadi seperti dodol/jenang.
Madumongso biasanya dibungkus kertas minyak yang berwarna-warni.


6. dodol blimbing

Dodol blimbing adalah salah satu camilan khas blitar dengan citarasa yang nikmat dan lezat. Dibuat langsung dengan tangan-tangan terampil masyarakat Blitar, dari bahan olahan. Pilihan yang sangat jarang di beberapa daerah, karena Blimbing merupakan hasil bumi yang paling banyak ditemukan di Blitar.



Sentra produksi dodol blimbing ini terletak di Kelurahan Karangsari Kota Blitar, yang juga merupakan salah satu daerah penghasil buah blimbing terbesar di Blitar.

7. es drop

Kalau menyebutkan nama es drop, pasti tidak banyak yang tau. Kecuali untuk mereka yang menetap atau pernah tinggal di Blitar, Jawa Timur. Es drop adalah sebutan untuk es lilin yang biasa dikenal oleh orang yang tinggal di Blitar. Jaman dahulu memang di hampir setiap daerah bisa kita jumpai para penjual es lilin dengan sangat mudah. Tetapi tidak banyak yang bisa bertahan sampai sekarang ini akibat kalah dengan makanan dan minuman yang diproses secara modern.
Keberadaan es drop diketahui sudah ada sejak jaman kolonial Belanda. Pabrik pembuatan es drop pertama kali berdiri pada tahun 1937 yang dikenal dengan nama Es Drop Burung Betet. Sebenarnya pabrik tersebut pada awalnya didirikan oleh pemiliknya sebagai tempat untuk memproduksi rokok, namun karena usaha itu tidak laku, maka kemudian pemiliknya mengganti usahanya dengan usaha pembuatan es drop yang masih bertahan sampai sekarang. Bahkan pabrik es drop tersebut kini sudah dikelola oleh generasi ketiga. Resep yang digunakan pun masih sama sampai sekarang sehingga tidak terlalu pengaruh terhadap perubahan rasa sejak dulu.
Bahan baku utama dari es drop adalah gula jawa dan santan yang dicetak memanjang sekitar 15cm dan ditaruh dengan lidi di tengahnya sebagai alat untuk memegang es drop tersebut saat dimakan. Es tidak dibungkus menggunakan plastik, tetapi menggunakan kertas putih. Bukan hanya konsisten dengan bahan-bahan yang digunakan untuk pembuatannya saja, tetapi para penjualnya juga tetap menggunakan metode lama sampai sekarang. Mereka masih menggunakan termos berbentuk silinder panjang yang terbuat dari kaca untuk mempertahankan suhu agar es tidak mudah mencair. Es drop bisa bertahan sampai sekitar 12 jam jika disimpan dalam termos tersebut.
Es drop punya berbagai macam varian rasa, diantaranya adalah kacang hijau, frambozen, durian, coklat, dan puding. Pedagang es drop di Blitar biasanya akan berkeliling kampung menggunakan sepeda mereka dari siang hingga sore hari.(wirjo's)




Jumat, 02 Januari 2015

sejarah kota blitar




SMASALUNGO 89. Sejarah Kota Blitar. Berdasarkan legenda, dahulu bangsa Tartar dari Asia Timur sempat menguasai daerah Blitar yang kala itu belum bernama Blitar. Majapahit saat itu merasa perlu untuk merebutnya. Kerajaan adidaya tersebut kemudian mengutus Nilasuwarna untuk memukul mundur bangsa Tartar.
Keberuntungan berpihak pada Nilasuwarna, ia dapat mengusir bangsa dari Mongolia itu. Atas jasanya, ia dianugerahi gelar sebagai Adipati Aryo Blitar I untuk kemudian memimpin daerah yang berhasil direbutnya tersebut. Ia menamakan tanah yang berhasil ia bebaskan dengan nama Balitar yang berarti kembali pulangnya bangsa Tartar.
Akan tetapi, pada perkembangannya terjadi konflik antara Aryo Blitar I dengan Ki Sengguruh Kinareja yang tak lain adalah patihnya sendiri. Konflik ini terjadi karena Sengguruh ingin mempersunting Dewi Rayung Wulan, istri Aryo Blitar I.
Singkat cerita, Aryo Blitar I lengser dan Sengguruh meraih tahta dengan gelar Adipati Aryo Blitar II. Akan tetapi, pemberontakan kembali terjadi. Aryo Blitar II dipaksa turun oleh Joko Kandung, putra dari Aryo Blitar I. Kepemimpinan Joko Kandung dihentikan oleh kedatangan bangsa Belanda. Sebenarnya, rakyat Blitar yang multietnis saat itu telah melakukan perlawanan, tetapi dapat diredam oleh Belanda.
Kota Blitar mulai berstatus gemeente (kotapraja) pada tanggal 1 April 1906 berdasarkan peraturan Staatsblad van Nederlandsche Indie No. 150/1906. Pada tahun itu, juga dibentuk beberapa kota lain di Pulau Jawa, antara lain Batavia, Buitenzong, Bandoeng, Cheribon, Magelang, Semarang, Salatiga, Madioen, Malang, Soerabaia dan Pasoeroean.
Dengan statusnya sebagai gemeente, selanjutnya di Blitar juga dibentuk Dewan Kotapradja Blitar yang beranggotakan 13 orang dan mendapatkan subsidi sebesar 11.850 gulden dari Pemerintah Hindia Belanda. Untuk sementara, jabatan burgemeester (wali kota) dirangkap oleh Residen Kediri.
Pada jaman pendudukan Jepang, berdasarkan Osamu Seirei tahun 1942, kota ini disebut sebagai Blitar-shi dengan luas wilayah 16,1 km² dan dipimpin oleh seorang shi-chō.
Selanjutnya, berdasarkan ketentuan dalam Undang-Undang No. 17/1950, Kota Blitar ditetapkan sebagai daerah kota kecil dengan luas wilayah 16,1 km². Dalam perkembangannya, nama kota ini kemudian diubah lagi menjadi 'Kotamadya Blitar' berdasarkan Undang-Undang No. 18/1965. Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 48/1982, luas wilayah Kotamadya Blitar ditambah menjadi 32,58 km² serta dikembangkan dari satu menjadi tiga kecamatan dengan 20 kelurahan. Terakhir, berdasarkan Undang-Undang No. 22/1999, nama Kotamadya Blitar diubah menjadi Kota Blitar.(wirjo's)